
BANJARMASIN : Api membakar semak dan pepohonan. Asap perlahan menebal, menutup jarak pandang dan membuat udara yang seharusnya menjadi ruang bernapas berubah menjadi sumber kekhawatiran. Inilah dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kini dialami masyarakat di Kalimatan, khususnya Kalimantan Selatan. Namun, persoalannya tidak berhenti ketika api padam atau lahan berubah menjadi hitam.
Ada kerugian lain yang datang secara perlahan. Kesehatan masyarakat terganggu, aktivitas sekolah tersendat, produktivitas pekerja menurun, hingga transportasi dan distribusi barang ikut terdampak ketika kabut asap semakin pekat.
Karhutla, bukan sekadar persoalan lingkungan. Ia dapat berubah menjadi persoalan ekonomi yang efeknya menjalar ke berbagai sektor kehidupan. Pandangan tersebut disampaikan Muhammad Junaidi, S.E., M.M., praktisi di Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) MAB. Menurutnya, dampak sebuah bencana memiliki efek berantai atau multiplier effect yang sering kali tidak langsung terlihat pada awal kejadian.
“Bencana mempunyai multiplier effect yang sering tidak terlihat pada hari pertama. Awalnya mungkin kebakaran lahan. Setelah itu muncul masalah kesehatan, aktivitas kerja terganggu, sekolah terganggu, transportasi terganggu dan pada akhirnya kegiatan ekonomi serta daya hidup masyarakat ikut melemah,” kata Junaidi.
Ketika kualitas udara menurun akibat asap, dampaknya paling mudah dirasakan melalui kesehatan. Gangguan pernapasan berpotensi meningkat. Masyarakat mungkin harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan layanan kesehatan, sementara mereka yang mengalami gangguan kesehatan juga berpotensi mengurangi aktivitas pekerjaan.
Dalam skala yang lebih luas, kondisi tersebut dapat menjadi beban ekonomi yang tidak selalu terlihat secara langsung. Pekerja yang tidak dapat beraktivitas secara normal berarti produktivitas berkurang. Pelaku usaha yang mengalami penurunan aktivitas berarti kehilangan peluang pendapatan. Jika berlangsung dalam waktu yang cukup lama, akumulasi gangguan kecil tersebut dapat menjadi persoalan ekonomi yang lebih besar.
Bahkan terganggunya aktivitas Pendidikan, yang memaksa para murid dan guru belajar secara daring. Anak-anak menjadi kelompok yang membutuhkan perhatian lebih dalam situasi tersebut.
Dari sisi Transportasi juga menghadapi persoalan serupa. Jarak pandang yang menurun dapat menghambat mobilitas. Dalam kondisi tertentu, dampaknya bahkan dapat merembet ke penerbangan, distribusi barang, perdagangan lokal, dan aktivitas masyarakat sehari-hari.
“Bisa jadi menjalar ke penerbangan dan transportasi, distribusi barang, perdagangan lokal serta aktivitas masyarakat sehari-hari,” jelas Junaidi.
Artinya, asap yang terlihat menggantung di udara sebenarnya membawa persoalan yang jauh lebih panjang daripada apa yang tampak secara kasatmata.
Saat Api Menyentuh Pangan
Persoalan menjadi semakin kompleks di wilayah yang menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian. Kondisi kering berkepanjangan dapat memengaruhi ketersediaan air dan produktivitas pertanian. Jika tekanan tersebut berlangsung lama, produksi pangan dapat ikut terganggu.
Pada tahap berikutnya, persoalan itu berpotensi merambat ke harga pangan dan pendapatan masyarakat. Di sinilah karhutla dan kondisi iklim mulai bertemu dengan persoalan ekonomi rumah tangga.
Karena itu, menurut Junaidi, penanganan karhutla tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai upaya memadamkan api. Pencegahan justru menjadi bagian penting dalam menjaga agar roda kehidupan dan perekonomian masyarakat tetap berjalan.
“Ketika kebakaran berhasil dikendalikan sebelum meluas, maka tidak ada aktivitas ekonomi yang berhenti. Ketika sistem peringatan bekerja dengan baik, masyarakat dapat mengantisipasi risiko lebih awal,” ujarnya.
Kerugian yang Tidak Pernah Tercatat
Ada paradoks dalam pengelolaan bencana. Kerugian setelah bencana terjadi relatif lebih mudah dihitung. Luas lahan terbakar dapat dicatat, biaya penanganan dapat dihitung, dan dampak terhadap masyarakat dapat diinventarisasi.
Namun, bagaimana menghitung kerugian yang tidak pernah terjadi karena sebuah bencana berhasil dicegah? Pertanyaan itulah yang menurut Junaidi sering luput dalam melihat nilai ekonomi dari upaya pencegahan.
“Terkadang memperkirakan biaya sebuah bencana setelah terjadi dapat dilakukan dengan mudah. Namun, memperkirakan kerugian yang tidak jadi terjadi karena pencegahan bekerja jauh lebih sulit. Padahal, secara ekonomi nilainya bisa sangat besar,” katanya.
Karena itu, investasi untuk pencegahan mungkin tidak selalu terlihat hasilnya secara kasatmata. Tidak ada berita tentang kerugian besar karena bencananya memang tidak pernah terjadi.
Namun, justru di situlah keberhasilan pencegahan berada. Prinsip sederhana bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati tidak hanya relevan dalam bidang kesehatan. Dalam perspektif ekonomi, prinsip tersebut juga memiliki dasar yang kuat.
Biaya kesiapsiagaan dapat direncanakan sejak awal. Sebaliknya, ketika bencana sudah membesar, kebutuhan anggaran dapat melonjak dan menjadi lebih sulit diprediksi.

Kesiapan Tidak Hanya Soal Anggaran
Dalam menghadapi meningkatnya risiko El Nino dan karhutla, Junaidi menilai kapasitas penanggulangan bencana perlu diperkuat. Termasuk di dalamnya kapasitas anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan jajaran penanggulangan bencana di daerah.
Namun, besarnya anggaran bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Yang lebih penting adalah memastikan seluruh kapasitas tersebut benar-benar siap digunakan ketika risiko muncul.
Pemantauan wilayah rawan, sistem peringatan dini (early warning system), kesiapan personel, ketersediaan logistik, pemeliharaan peralatan, koordinasi antarlembaga hingga kecepatan merespons titik api merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan.
Sebab, dalam penanganan karhutla, waktu sering menjadi faktor penentu. Api yang masih kecil jauh lebih mudah dikendalikan dibandingkan api yang telah meluas dan sulit dijangkau.
Junaidi menyebut ada prinsip sederhana dalam pengelolaan risiko: semakin besar kemungkinan suatu bencana terjadi dan semakin besar potensi kerugiannya, semakin penting pula kesiapan untuk menghadapinya.
“Karena itu, ketika risiko El Nino dan karhutla meningkat, kapasitas penanggulangan bencana tidak seharusnya justru melemah,” tegasnya.
Harapan Harus Dibayar Dengan Kesiapan
Di Kalimantan Selatan, penanganan karhutla terus menjadi perhatian pemerintah daerah bersama berbagai pihak. Luas lahan yang terdampak dalam berbagai kejadian sebelumnya menunjukkan bahwa karhutla bukan ancaman yang bisa dianggap sepele. Pencegahan dan respons cepat menjadi penting agar titik api tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
Pada akhirnya, menghadapi ancaman El Nino dan karhutla bukan hanya soal seberapa cepat petugas datang membawa peralatan pemadam. Lebih jauh dari itu, persoalannya adalah seberapa siap seluruh sistem bekerja sebelum api membesar.
Harapan agar Kalimantan Selatan dapat melewati ancaman karhutla dengan dampak minimal tentu penting. Namun, harapan tanpa kesiapan hanya akan menjadi kalimat yang mudah diucapkan.
“Kita tentu berharap risiko El Nino dan karhutla tahun ini dapat dilewati dengan baik. Tetapi harapan harus disertai kesiapan. Karena biaya pencegahan hampir selalu lebih kecil dibandingkan biaya ekonomi, kesehatan dan sosial ketika sebuah bencana sudah terlanjur membesar,” pungkas Junaidi.
Pada akhirnya, keberhasilan menghadapi karhutla mungkin bukan hanya ketika api berhasil dipadamkan.
Keberhasilan yang lebih besar adalah ketika api belum sempat membesar, aktivitas masyarakat tetap berjalan, anak-anak tetap dapat belajar, pekerja tetap produktif, distribusi barang tidak terhenti, dan masyarakat tidak perlu membayar mahal akibat bencana yang sebenarnya masih bisa dicegah.










































































