
PELAIHARI : Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Pelaihari, di bawah Kementerian Pertanian, bekerja sama dengan Universitas Brawijaya (UB) untuk meningkatkan kualitas pembibitan kambing Peranakan Etawa (PE) melalui pendekatan ilmiah. Kolaborasi penelitian yang berlangsung pada 2024–2026 ini diarahkan untuk menghasilkan metode seleksi bibit unggul yang lebih akurat dan berkelanjutan.
Upaya tersebut dilakukan dengan mengembangkan sistem pemuliaan ternak berbasis data, sehingga penentuan bibit tidak hanya mengandalkan ciri fisik atau hasil produksi yang terlihat. Faktor silsilah, lingkungan pemeliharaan, konsistensi pengukuran, dan kemampuan genetik untuk diwariskan juga menjadi pertimbangan dalam menentukan kualitas ternak.
Penelitian bersama ini meliputi pengumpulan data pertumbuhan, pencatatan produksi susu, penghitungan parameter genetik, perkiraan nilai pemuliaan, serta identifikasi keragaman genom. Hingga saat ini, kerja sama tersebut telah menghasilkan empat publikasi ilmiah. Penelitian lanjutan melalui pengujian genom juga dipersiapkan sebagai dasar pengembangan program pemuliaan ternak dalam jangka panjang.
Kepala Subbagian Tata Usaha BPTU-HPT Pelaihari, IM Unggul Abrianto, S.Pt., M.Pt., menyampaikan bahwa pihaknya mendukung pemanfaatan fasilitas balai untuk kegiatan penelitian di bidang peternakan.
“Sebagai instansi teknis yang bertugas untuk pemuliaan bibit ternak unggul, khususnya kambing Peranakan Etawa, BPTU-HPT Pelaihari selalu membuka diri terhadap permintaan penelitian karena sarana balai dapat dimanfaatkan untuk riset peternakan,” ujarnya.
Dukungan terhadap kolaborasi tersebut juga disampaikan Guru Besar Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. VM Ani Nurgiartiningsih, M.Sc., IPU. Menurutnya, perguruan tinggi mempunyai peran penting dalam menghasilkan penelitian yang dapat menunjang pelaksanaan program pembangunan pemerintah.
“Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mengembangkan penelitian ilmiah serta mendukung keberhasilan program pembangunan pemerintah,” kata Ani dalam pertemuan yang turut dihadiri Prof. Julius Van der Werd.
Tim peneliti Universitas Brawijaya menjelaskan bahwa penelitian dilaksanakan melalui beberapa tahapan, mulai dari pengumpulan data di lapangan, analisis statistik genetik, hingga pemanfaatan informasi genom untuk mendukung pengaturan perkawinan ternak.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ukuran lingkar dada kambing saat penyapihan memiliki hubungan yang kuat dengan ukuran lingkar dada pada usia delapan bulan. Temuan ini dinilai dapat dimanfaatkan sebagai indikator awal untuk menyaring calon bibit unggul.
Penelitian tersebut juga menemukan adanya hubungan genetik positif antara ukuran tubuh kambing dan produksi susu. Nilai heritabilitas yang dilaporkan cukup tinggi dalam kondisi lingkungan tropis, sehingga karakteristik tersebut berpotensi mendukung program seleksi ternak. Meski demikian, penerapannya tetap perlu mempertimbangkan kondisi pemeliharaan dan karakteristik populasi ternak yang diteliti.
Untuk memperkuat proses seleksi, tim peneliti turut mengembangkan pendekatan whole-genome sequencing, yakni metode pengurutan genom secara menyeluruh. Pengujian ini ditujukan untuk memperluas basis data variasi DNA yang dapat digunakan dalam pengembangan sistem seleksi genetik pada masa mendatang.
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat empat langkah yang direkomendasikan bagi BPTU-HPT Pelaihari. Langkah tersebut mencakup penerapan pencatatan data ternak yang terstandar, penggunaan Estimated Breeding Value (EBV) atau estimasi nilai pemuliaan, pemanfaatan informasi variasi genom, serta penyusunan program perkawinan ternak secara terukur.
Penerapan metode seleksi sejak usia tiga hingga enam bulan juga berpotensi membantu meningkatkan efisiensi biaya pemeliharaan karena calon bibit dapat dievaluasi lebih awal. Selain itu, pengaturan perkawinan berdasarkan data genetik diharapkan dapat mengurangi risiko perkawinan sekerabat atau inbreeding.
Melalui kolaborasi antara BPTU-HPT Pelaihari dan Universitas Brawijaya, pengembangan pemuliaan kambing Peranakan Etawa diharapkan semakin terarah dengan dukungan data ilmiah. Hasil penelitian ini dapat menjadi landasan bagi penyempurnaan sistem pembibitan yang mendukung peningkatan mutu genetik dan produktivitas ternak nasional.











































































