
EKONOMI : Nilai ekspor pakaian jadi Indonesia mencapai US$7,27 miliar pada 2025, meningkat sekitar 2,7% dibandingkan US$7,08 miliar pada tahun sebelumnya. Di tengah peluang perluasan pasar global, peningkatan produktivitas, adopsi teknologi, dan penguatan rantai pasok dinilai menjadi faktor penting untuk memperkuat daya saing industri garmen nasional.
Potensi tersebut disoroti Rizal Tanzil Rakhman, yang membidangi hubungan pemerintah dan keberlanjutan di PT Pan Brothers Tbk, setelah berpartisipasi dalam BRICS+ Fashion Summit di Moskow, Rusia.
Menurut Rizal, Indonesia memiliki modal untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat manufaktur garmen bagi pasar internasional, termasuk negara-negara BRICS+ dan Asia. Namun, peluang tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan efisiensi produksi, kepastian investasi, serta dukungan infrastruktur logistik yang lebih kompetitif.
“Indonesia memiliki tenaga kerja manufaktur yang berpengalaman, rantai pasok berorientasi ekspor yang telah terbentuk, kemampuan produksi yang kompetitif, serta komitmen yang semakin kuat terhadap manufaktur berkelanjutan,” ujar Rizal dalam keterangan pers yang diterima redaksi (15/10/2026).
Ia menambahkan, untuk memaksimalkan potensi tersebut, industri perlu terus meningkatkan produktivitas dan efisiensi logistik, memperkuat rantai pasok dari hulu, serta mempercepat adopsi teknologi.
Dari sisi pasar, Amerika Serikat masih menjadi salah satu tujuan utama ekspor pakaian jadi Indonesia, bersama Jepang, Korea Selatan, dan sejumlah negara Eropa, termasuk Jerman. Sementara itu, penguatan hubungan perdagangan dengan negara-negara BRICS+ membuka peluang diversifikasi pasar bagi produsen nasional.
Teknologi dan Keberlanjutan Industri
Perubahan tuntutan pasar global turut mendorong industri garmen untuk tidak hanya mengandalkan kualitas produk dan harga yang kompetitif. Efisiensi proses produksi, pengurangan emisi karbon, transparansi rantai pasok, dan penerapan ekonomi sirkular semakin menjadi bagian dari strategi bisnis manufaktur.
Rizal menjelaskan, dalam BRICS+ Fashion Summit, Pan Brothers turut memaparkan langkah perusahaan mengintegrasikan restrukturisasi keuangan dengan investasi untuk memperkuat kemampuan operasional.
Investasi tersebut diarahkan pada sejumlah area strategis, antara lain otomatisasi dan digitalisasi proses produksi, efisiensi energi, pemanfaatan energi terbarukan, serta teknologi yang mendukung penelusuran asal bahan baku dan penggunaan sumber daya secara lebih efisien.
“Pelanggan internasional kini semakin mengharapkan pemasok untuk tidak hanya menawarkan kualitas, harga, dan kecepatan produksi yang kompetitif, tetapi juga menunjukkan kemajuan yang terukur dalam pengurangan emisi karbon, penerapan ekonomi sirkular, dan transparansi,” jelasnya.

Menurut Rizal, perkembangan tersebut membuat teknologi dan keberlanjutan semakin terintegrasi dalam strategi peningkatan daya saing industri.
“Karena itu, teknologi dan keberlanjutan tidak lagi menjadi dua investasi yang terpisah, melainkan semakin menjadi bagian dari strategi yang sama untuk memperkuat daya saing,” tambahnya.
Salah satu penerapan prinsip tersebut dilakukan melalui program daur ulang dengan sistem closed-loop. Dalam program ini, sisa kain dari proses pemotongan dimanfaatkan kembali untuk memproduksi seragam karyawan.
Program tersebut telah menghasilkan seragam daur ulang bagi sekitar 23.000 karyawan. Seragam itu diperbarui setiap satu hingga dua tahun, sehingga inisiatif ini menjadi salah satu upaya perusahaan memanfaatkan kembali sisa produksi dalam kegiatan manufaktur sehari-hari.
Digitalisasi Dan Waktu Produksi
Peran teknologi dalam meningkatkan efisiensi industri juga menjadi salah satu pembahasan BRICS+ Fashion Summit. Forum bisnis internasional yang digelar di Moskow tersebut mempertemukan pelaku industri mode, investor, produsen, dan pakar dari lebih dari 60 negara.
Cem Altan, perwakilan International Apparel Federation, menyampaikan bahwa digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI) berpotensi mempercepat proses pengadaan dan rantai pasok. Berdasarkan pengalamannya, waktu yang sebelumnya mencapai enam bulan dapat dipangkas menjadi satu bulan, bahkan dua minggu dalam sejumlah kasus.
Meski demikian, penerapan teknologi perlu disertai peningkatan kompetensi tenaga kerja agar karyawan mampu mengolah data produksi dan menggunakan sistem digital secara efektif.
Sementara itu, CEO Body Media International asal Pakistan, Mubashar Naseer Butt, menyoroti pemanfaatan AI untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus menekan biaya manufaktur. Efisiensi yang dihasilkan, menurutnya, dapat membuka ruang bagi perusahaan untuk meningkatkan upah dan memperbaiki kondisi kerja.
Dari sisi pengembangan produk, Aleksandra Kaloshina, pendiri Solstudio Textile Group asal Rusia, memperkenalkan platform Print-a-Porter. Platform tersebut menggabungkan pesanan pencetakan kain dalam jumlah kecil ke dalam satu kelompok produksi yang dapat diproses menggunakan peralatan industri.
Melalui pendekatan ini, desainer dapat memesan kain bermotif khusus mulai dari 50 sentimeter untuk menguji desain sebelum mengalokasikan investasi lebih besar pada produksi.
Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi tidak hanya berpotensi mempercepat produksi, tetapi juga membuka peluang efisiensi bagi pelaku industri dengan skala usaha berbeda.
Pan Brothers Perkuat Kapasitas Manufaktur
Sebagai salah satu pelaku industri garmen berorientasi ekspor, PT Pan Brothers Tbk memiliki pengalaman manufaktur yang dibangun sejak 1980. Perusahaan ini mengoperasikan delapan fasilitas produksi di Pulau Jawa, dengan lebih dari 22.600 tenaga kerja dan kapasitas produksi tahunan sekitar 111 juta potong pakaian.
Pan Brothers melayani sejumlah merek global, di antaranya Adidas, Uniqlo, The North Face, Arc’teryx, dan lululemon, dengan jangkauan pasar di Asia, Amerika Serikat, Eropa, dan sejumlah wilayah lainnya.
Partisipasi dalam BRICS+ Fashion Summit juga menjadi bagian dari upaya perusahaan memperluas komunikasi dengan organisasi industri internasional dan perusahaan teknologi. Rizal menyebut, komunikasi yang terjalin setelah keikutsertaannya dalam forum sebelumnya berlanjut pada pembahasan potensi kerja sama di bidang daur ulang tekstil dan pengurangan emisi. Dengan nilai ekspor pakaian jadi yang terus meningkat, penguatan produktivitas, efisiensi rantai pasok, dan pemanfaatan teknologi menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan untuk menjaga daya saing manufaktur garmen Indonesia di pasar global.
“Saya melihat Summit ini sebagai jembatan potensial yang menghubungkan ekosistem industri mode yang sedang berkembang. Nilai jangka panjangnya akan ditentukan oleh kemampuan kita mengubah pertemuan dan pertukaran budaya menjadi kolaborasi konkret, peluang bisnis, kemitraan teknologi, serta peningkatan eksposur di tingkat internasional,” tutup Rizal.









































































