Gagasan Presiden Prabowo untuk memperkuat ekonomi desa melalui Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih lahir dari keprihatinan mendalam: desa tidak boleh lagi menjadi kantong kemiskinan, terjerat tengkulak, pinjaman online, dan ketergantungan pada kota. Dengan 80 ribu koperasi yang akan segera dioperasikan dan dukungan Inpres No. 9 dan 17 Tahun 2025, program ini menjadi salah satu proyek pembangunan ekonomi rakyat terbesar di Indonesia.
Namun di balik optimisme, muncul pertanyaan mendasar: Apakah SDM koperasi kita sudah siap?
Dalam program Indonesia Business Forum TV One, Menteri Koperasi Ferry Juliantono menyampaikan bahwa Koperasi Merah Putih bukan sekadar lembaga simpan pinjam, tetapi gerakan kemandirian ekonomi nasional yang harus dikelola secara profesional. Pemerintah menyiapkan dana hingga 3 miliar rupiah per koperasi—namun SDM menjadi kunci utama keberhasilan.
Menurut Agung Sudjatmoko dari KADIN, keuangan bukan masalah utama—melainkan mentalitas pengelola koperasi. Banyak koperasi sebelumnya gagal bukan karena kurang modal, tapi karena minimnya integritas, transparansi, dan kepemimpinan yang visioner.
Dr. Surjadi, ekonom LPEM UI, mengingatkan agar Koperasi Merah Putih tidak hanya menjadi “program politik sesaat”, tetapi harus berbasis data, kebutuhan lokal, dan pengawasan yang realistis. Henry Saragih menambahkan, koperasi harus menyentuh petani dan akar rumput, bukan hanya seremoni di kota.
Sudut Pandang Saya: Jurnalis Senior dan Praktisi Character Building
Sebagai jurnalis yang telah lama meliput dinamika ekonomi rakyat, dan sebagai praktisi Character Building, saya melihat inti persoalannya bukan hanya pada struktur koperasi, tetapi pada manusianya — mindset, karakter, dan budaya kerja.
Saat ini kita menghadapi fenomena:
- Banyak SDM koperasi menguasai teori, tapi tidak berdaya saat tidak diawasi.
- Disiplin sering muncul hanya ketika ada atasan atau auditor.
- Komitmen gotong royong terkikis oleh budaya instan, keinginan cepat untung, dan orientasi pribadi.
Padahal koperasi lahir dari semangat “dari kita, oleh kita, untuk kita”. Jika SDM masih memandang koperasi sebagai proyek bantuan, bukan gerakan bersama, maka dana 3 miliar hanya akan menjadi angka, bukan perubahan.
Apa yang Harus Disiapkan dalam SDM Koperasi Merah Putih?
1. Karakter & Integritas
Latihan disiplin tanpa pengawasan.
Jujur dalam mengelola uang yang bukan miliknya.
Berani berkata “tidak” pada praktik titipan atau penyimpangan.
2. Manajemen & Kepemimpinan Desa
Pengelola harus memiliki kemampuan administratif, digital, dan pelayanan publik.
Pemimpin koperasi bukan sekadar ketua, tapi penggerak komunitas.
3. Pendidikan Finansial dan Literasi Digital
Transparansi laporan keuangan berbasis teknologi sederhana.
Penguatan kemampuan mengelola aset, bukan hanya memutar uang.
4. Budaya Gotong Royong Modern
Koperasi bukan lembaga formal, tetapi rumah bersama.
Anggota tidak hanya setor modal, tapi ikut terlibat dalam keputusan.
Karakter adalah Fondasi, Modal Hanya Pelengkap
Koperasi Merah Putih adalah ide besar. Namun ide besar bisa jatuh menjadi beban jika tidak disiapkan dengan SDM yang juga besar: besar niatnya, besar integritasnya, besar rasa tanggung jawabnya.
Sebagai pengingat, “Bangsa ini merdeka bukan karena modal, tapi karena karakter.” Maka, sebelum 3 miliar rupiah digelontorkan, bangun dulu nilai: jujur, disiplin, gotong royong, dan mandiri.
Jika ini dilakukan, Koperasi Merah Putih bukan hanya program pemerintah—tetapi menjadi gerakan ekonomi kebangsaan.






























































