Intinya…
-
Kenaikan harga bahan pokok, tarif listrik, dan air yang tidak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan menyebabkan daya beli masyarakat semakin melemah, terutama bagi kelompok berpenghasilan rendah.
-
Pemerintah perlu mengambil tindakan strategis, seperti mengendalikan harga bahan pokok, mengawasi tarif layanan dasar, serta meningkatkan daya beli melalui kebijakan upah dan penciptaan lapangan kerja.
Follow Instagram BeritaDesa.co untuk mendapatkan informasi terbaru!
_____________________________________________
BeritaDesa.co.id – Dalam beberapa tahun terakhir, pendapatan masyarakat cenderung stagnan bahkan menurun, sementara biaya hidup terus meningkat secara drastis. Harga bahan pokok, tarif air, listrik, dan berbagai kebutuhan lainnya terus meroket, membuat daya beli masyarakat semakin melemah.
Masyarakat kelas menengah ke bawah yang sebelumnya masih bisa bertahan kini semakin terhimpit. Banyak pekerja yang mengalami pemotongan gaji, kehilangan pekerjaan, atau pendapatannya tidak meningkat seiring dengan kenaikan harga-harga kebutuhan.

Ketua Umum DPP Asosiasi Badan Permusyawaratan Desa Nasional (ABPEDNAS), Indra Utama, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi ekonomi masyarakat saat ini.
“Pendapatan masyarakat terus menurun, sementara biaya hidup semakin mahal. Jika tidak ada intervensi serius dari pemerintah, maka masyarakat kecil yang paling merasakan dampaknya,” ujarnya.
Beberapa bahan pokok yang mengalami kenaikan harga signifikan antara lain:
- Beras: Harga beras premium yang sebelumnya berkisar Rp12.000–Rp14.000 per kg kini menembus Rp16.000–Rp18.000 per kg.
- Gula pasir: Dari Rp13.000 per kg kini mencapai Rp17.000 per kg.
- Minyak goreng: Harga minyak goreng yang sebelumnya stabil di Rp14.000 per liter kini bisa mencapai Rp20.000 per liter di beberapa daerah.
Kenaikan ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk produksi dalam negeri yang terganggu, kenaikan harga impor, hingga permainan spekulan di pasar.
Selain bahan pokok, masyarakat juga dihadapkan pada kenaikan tarif air dan listrik yang semakin membebani anggaran rumah tangga. Tarif air di beberapa apartemen dan perumahan naik hingga 71%, menambah beban bagi warga yang sudah kesulitan. Selain itu tarif listrik juga mengalami kenaikan secara bertahap, terutama bagi pelanggan 3.500 VA ke atas, yang menyebabkan lonjakan tagihan bulanan.
Indra Utama menambahkan kondisi tersebut sangat membebani rakyat yang berpengasilan rendah.
“Banyak masyarakat yang mengeluhkan kenaikan tarif dasar listrik dan air yang semakin tidak terkendali. Ini sangat memberatkan, terutama bagi mereka yang berpenghasilan rendah.” tambahnya.
Di sisi lain, banyak pekerja dan pelaku usaha kecil mengalami penurunan pendapatan karena daya beli masyarakat yang melemah. Beberapa faktor yang menyebabkan penurunan ini antara lain gelombang PHK dan pemangkasan gaji karena banyak perusahaan mengurangi jumlah karyawan atau memangkas upah akibat lesunya ekonomi. Kemudian persaingan usaha yang ketat yang menyebabkan UMKM semakin sulit bertahan karena kenaikan biaya produksi dan turunnya permintaan pasar dan minimnya kenaikan upah.
Dalam kondisi sulit ini, masyarakat terpaksa melakukan berbagai cara untuk bertahan dengan cara mengurangi konsumsi barang sekunder dan hiburan, beralih ke bahan makanan yang lebih murah dan mengurangi konsumsi daging serta produk impor, serta menghemat penggunaan listrik dan air untuk menghindari lonjakan tagihan.
Namun, solusi jangka panjang tetap harus datang dari kebijakan pemerintah. Menurut Indra Utama, penghematan yang dilakukan pemerintah seharusnya bukan dengan menekan rakyat, tetapi dengan mencari solusi kreatif dan inovatif. Ia menyarankan beberapa langkah strategis yang perlu diambil, seperti:
- Mengendalikan harga bahan pokok melalui kebijakan subsidi atau intervensi pasar.
- Mengawasi tarif listrik, air, dan gas agar tidak terus membebani masyarakat.
- Meningkatkan daya beli masyarakat dengan menaikkan upah secara wajar dan membuka lebih banyak lapangan kerja.
- Mendorong ekspor UMKM serta memperluas peluang tenaga kerja Indonesia di pasar global.
Jika tidak ada langkah konkret untuk mengatasi masalah ini, maka beban hidup masyarakat akan terus meningkat dan kesejahteraan mereka semakin terancam. Pemerintah, swasta, dan masyarakat harus bekerja sama untuk mencari solusi agar kehidupan tidak semakin sulit di masa depan.






























































