BeritaDesa.co.id — Para petani di Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu, meluapkan kekecewaan mereka dengan cara yang menyayat hati: membuang hasil panen pisang kepok ke laut. Aksi itu dilakukan sebagai bentuk protes karena kapal ferry yang biasa mengangkut hasil pertanian mereka tak lagi bisa bersandar di Pelabuhan Pulau Bai, Bengkulu, akibat pendangkalan yang tak kunjung diatasi.
Tak hanya pisang, berbagai hasil bumi lainnya seperti jengkol dan komoditas lokal unggulan lainnya pun terancam busuk dan sia-sia. Padahal, hasil panen petani Pulau Enggano dikenal memiliki kualitas baik dan sangat mendukung program ketahanan pangan nasional serta program makan bergizi gratis yang tengah digaungkan pemerintah.
“Kami kecewa berat. Hasil panen kami tak bisa dikirim karena kapal ferry tak bisa sandar. Pisang kami jadi membusuk. Akhirnya kami buang ke laut. Ini bukan cuma rugi uang, ini tentang nasib petani kecil,” ujar Alamuddin, Kepala Desa di salah satu wilayah Pulau Enggano, Minggu (5/5).
Menurut Alamuddin, solusi atas persoalan ini sebetulnya sangat sederhana dan tidak membutuhkan biaya besar. Ia menyebut cukup dengan mengeruk Pelabuhan Pulau Bai di Bengkulu dan mengaktifkan kembali jalur kapal ferry Enggano–Pulau Bai, distribusi hasil pertanian akan kembali lancar.
“Mohon perhatian dari Pak Gubernur Bengkulu, Pak Helmy. Ini tidak mahal, tidak rumit. Jangan sampai negara lain yang turun tangan memberikan solusi. Masak masalah begini harus sampai ke Presiden Prabowo dulu baru ditangani?” ucapnya penuh harap.
Warga Enggano pun menunggu langkah konkret dari pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat. Mereka berharap pemerintah segera hadir dengan solusi nyata, bukan sekadar janji, agar penderitaan petani di pulau terluar ini tidak berlanjut.
Video: Pulau Enggano Masih Terisolasi: Petani Buang Pisang ke Laut, Kades Akan Temui Presiden






























































