BeritaDesa.co.id, Bengkulu Tengah — Di tengah semangat pembangunan desa yang terus digaungkan oleh pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Bengkulu melalui kucuran Dana Desa (DD), masih ditemukan persoalan yang menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Salah satunya terjadi di Desa Kembang Seri, Kecamatan Talang Empat, Kabupaten Bengkulu Tengah, yang terletak di jalur lintas timur Bengkulu–Lubuk Linggau.
Berdasarkan pantauan awak media di lapangan dan laporan dari masyarakat setempat, ditemukan adanya dugaan penyalahgunaan anggaran serta kurangnya transparansi dalam pelaksanaan pembangunan infrastruktur desa. Proyek yang dimaksud adalah peningkatan pembangunan jalan desa menuju desa tetangga yang dibiayai oleh Dana Desa tahun anggaran 2023, namun direalisasikan pada tahun 2024.
Ironisnya, kondisi jalan dan terutama jembatan penghubung yang baru dibangun tersebut kini sudah mengalami kerusakan parah. Struktur jembatan terlihat jebol dan nyaris hilang bentuk aslinya.
Seorang warga berinisial MS (nama disamarkan) menyatakan bahwa pelaksanaan pembangunan dinilai tidak sesuai harapan.
“Pembangunan jalan desa ini menggunakan Dana Desa tahun 2023, tapi baru dikerjakan tahun 2024. Yang jadi pertanyaan masyarakat, kenapa hasilnya sudah rusak padahal belum satu tahun. Terutama pada jembatan penghubung, terkesan asal-asalan,” ungkapnya dikutip dari porosnusantara.com (17/05/2025).
MS juga mempertanyakan peran pendamping desa dalam melakukan pengawasan terhadap kegiatan yang dibiayai oleh Dana Desa. Ia berharap ke depan, pengawasan dapat lebih ditingkatkan agar kesalahan dalam pelaksanaan program dapat diminimalisir.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Desa Kembang Seri, Endri Supiyan, saat dikonfirmasi media ini melalui aplikasi WhatsApp, membenarkan bahwa proyek jalan tersebut memang bersumber dari Dana Desa. Namun, ia membantah tudingan bahwa pembangunan dilakukan secara asal-asalan atau tidak transparan.
“Pembangunan jalan dan jembatan penghubung itu sudah melalui persetujuan berbagai pihak, termasuk perangkat desa, BPD, dan pendamping desa. Tidak benar kalau dikatakan asal-asalan,” tegas Endri Supiyan.
Menurutnya, kerusakan jembatan disebabkan oleh kejadian luar biasa (force majeure), yaitu bencana alam.
Sementara itu, upaya jurnalis untuk menghubungi pendamping desa yang bertugas di Desa Kembang Seri hingga berita ini dirilis masih belum membuahkan hasil.

























































