Oleh: Gusti Ayu, Beritadesa.co.id
Mulai awal 2026, Badan Gizi Nasional (BGN) memasuki fase baru penguatan sistem gizi nasional. Transformasi ini bukan hanya pembaruan mekanisme kerja, melainkan loncatan besar menuju tata kelola layanan publik yang lebih transparan, cepat, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kepala BGN Dadan Hindayana menegaskan komitmen tersebut melalui kebijakan pendanaan harian sebesar Rp900 miliar yang memastikan setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dapat beroperasi tanpa hambatan.
“Kami mengirimkan Rp900 miliar per hari, dan 85 persen langsung dipakai membeli bahan baku makan bergizi gratis,” ujar Dadan dalam forum nasional. Ia menekankan bahwa 95–99 persen bahan baku berasal dari produk pertanian domestik—sebuah skema yang tidak hanya memberi makan anak-anak Indonesia, tetapi juga menggerakkan ekonomi desa.
Dadan juga menjelaskan mekanisme pengisian otomatis ke virtual account SPPG sebesar Rp500 juta, yang terus kembali terisi ketika dana terpakai.
“Uangnya tidak akan pernah kosong,” tambahnya dengan penuh keyakinan.
Langkah ini menjadi bukti bahwa BGN bergerak dengan pendekatan yang lebih modern: menghilangkan proposal berlapis dan menggantinya dengan pelaporan berbasis sistem. Kebijakan tersebut menunjukkan keberanian Dadan Hindayana dalam menyederhanakan birokrasi sekaligus mempercepat pelayanan publik.
Tidak sedikit pemangku kepentingan menilai bahwa Dadan adalah salah satu pejabat yang mendorong perubahan paling progresif di sektor pelayanan gizi. Kombinasi antara ketegasan, perhitungan kebijakan berbasis data, dan konsistensi menjadikannya figur yang berhasil mengarahkan BGN ke jalur yang lebih visioner.
Di masa depan, BGN menargetkan terbangunnya portal publik yang memungkinkan masyarakat mengawasi arus anggaran, kinerja SPPG, hingga sumber bahan baku secara real-time. Komunikasi publik tidak lagi bersifat satu arah, melainkan ruang dialog terbuka antara negara dan warga.
Jika model ini berjalan sesuai arah yang dibangun Dadan Hindayana, BGN berpotensi menjadi lembaga rujukan nasional dalam tata kelola transparansi—sebuah contoh bagaimana negara hadir setiap hari, bahkan setiap kali uang Rp500 juta itu kembali terisi.
Dengan fondasi kebijakan yang semakin matang, BGN sedang menapaki masa depan yang menjanjikan: masa depan di mana layanan gizi tidak hanya memberi makan, tetapi juga






























































