oleh: Ir. H. Indra Utama M.PWK., IPU, Ketua Umum DPP ABPEDNAS, Bendahara Umum Asosiasi Desa Bersatu dan CEO Journalist Media Network
Surat terbuka Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, kepada Donald Trump dan Elon Musk beberapa waktu lalu patut menjadi renungan bersama. Dalam suratnya, Sheinbaum mengingatkan bahwa dunia di luar “tembok” Amerika Serikat adalah pasar global yang dinamis, di mana 7 miliar konsumen bisa dengan cepat beralih dari produk AS ke alternatif lain yang lebih kompetitif. Pesan ini bukan sekadar kritik, melainkan tamparan keras bagi mentalitas proteksionis yang merendahkan potensi negara lain. Bagi Indonesia, momen ini justru harus dilihat sebagai peluang emas untuk membangkitkan produk UMKM lokal, mengembangkan wisata desa, dan memperkuat koperasi sebagai tulang punggung ekonomi kerakyatan.
Kebijakan Donald Trump yang cenderung isolasionis dan ambisi Elon Musk dalam mendominasi teknologi global sesungguhnya adalah alarm bagi bangsa-bangsa lain. Jika AS terus membangun “tembok” dan mengabaikan kolaborasi, pasar global akan mencari alternatif. Di sinilah Indonesia harus mengambil peran. UMKM kita, yang selama ini terpinggirkan oleh produk impor, bisa menjadi jawaban atas permintaan pasar yang mulai jenuh dengan merek-merek besar AS. Contohnya, produk tekstil tradisional seperti batik atau tenun Nusantara bisa menggantikan Levi’s dan Zara jika dikemas dengan inovasi dan strategi pemasaran yang tepat.
Sheinbaum menyebut Cancun dan piramida Meksiko sebagai destinasi alternatif dari Disneyland. Indonesia memiliki lebih dari itu! Dari desa adat Wae Rebo di Flores hingga wisata bahari Raja Ampat, sampai Desa Ponggok dan banyak lagi potensi wisata desa kita tak kalah memukau belum dieksplore seperti air terjun di Bengkulu, keindahan wisata ramang-ramang di Maros Sulsel. Destinasi ini masih belum dikenal karena kurangnya infrastruktur dan promosi. Pemerintah dan swasta harus berkolaborasi membangun ekosistem wisata desa yang berkelanjutan. Dengan mengangkat kearifan lokal, homestay berbasis komunitas, dan paket wisata berbasis alam, desa-desa Indonesia bisa menjadi magnet bagi turis global yang lelah dengan kemewahan artifisial.
Koperasi jangan lagi dipandang sebagai lembaga kuno. Di era digital, koperasi desa bisa menjadi kekuatan kolektif UMKM untuk bersaing di pasar global. Misalnya, koperasi desa bisa mengelola pemasaran online produk UMKM, menyediakan akses pembiayaan mikro, atau menjadi aggregator hasil pertanian dan kerajinan untuk ekspor.
Dengan dukungan teknologi, koperasi desa mampu menciptakan rantai pasok yang efisien dan transparan.
Jika Trump dan Musk sibuk membangun tembok, mari kita bangun jembatan melalui koperasi desa yang menghubungkan desa dengan pasar dunia.
Pertama, pemerintah perlu memperkuat insentif bagi UMKM dan koperasi, seperti pelatihan digitalisasi, akses pembiayaan rendah bunga, serta perlindungan hukum dari praktik dumping produk impor. Kedua, promosi desa wisata harus masif melalui platform digital dan kolaborasi dengan influencer global. Ketiga, diplomasi ekonomi harus dioptimalkan untuk membuka akses pasar produk lokal ke negara-negara yang mulai “bosan” dengan dominasi AS dengan menjadikan Koperasi Desa Merah Putih menjadi motor penggerak.
Surat Sheinbaum adalah cermin: dunia sedang mencari alternatif. Indonesia, dengan kekayaan alam, budaya, dan SDM-nya, bisa menjadi salah satu alternatif itu. Jangan biarkan kebijakan Trump dan ambisi Musk membuat kita takut. Justru, inilah saatnya UMKM, potensi desa wisata , dan koperasi desa merah putih berdiri tegak sambil berkata: “Kami siap menggantikan posisi kalian!”






























































