
Berita Desa : Kita tidak tahu bagaimana perasaan Presiden Prabowo Subianto ketika bersama Tim Indonesia mengangkat trofi FIFA ASEAN Cup di hadapan puluhan ribu penonton di Stadion Gelora Bung Karno, Senin (05/10/2026) malam. Tetapi melalui layar televisi, semuanya terlihat terharu dan bangga.
Tentu dan sudah pasti ada kebanggaan. Kemenangan atas Thailand melalui adu penalti 4-2 setelah pertandingan berakhir 2-2 itu menorehkan sejarah. Indonesia menjadi juara pada edisi perdana FIFA ASEAN Cup 2026. Jutaan rakyat Indonesia pun ikut merasakan kebanggaan tersebut, terutama mereka yang menyaksikan pertandingan secara langsung melalui layar televisi di berbagai pelosok negeri.
Melalui media massa dan media sosial, kita mengetahui nonton bareng dilakukan di mana-mana. Begitu pertandingan berakhir dan Indonesia memastikan kemenangan, meledaklah kegembiraan masyarakat. Mereka melompat, berteriak, bersalaman dan berpelukan. Ribuan orang bahkan turun ke jalan dengan sepeda motor, berkeliling kota meluapkan rasa bahagia.
Ya, kita sudah terlalu lama menunggu.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir sudah mencoba berbagai resep. Pemain-pemain keturunan Indonesia yang bermain di liga Eropa didatangkan untuk memperkuat tim nasional. Pelatih asing pun sudah berkali-kali dipercaya menangani Timnas Indonesia, hingga akhirnya John Herdman menikmati manisnya trofi kemenangan bersama skuad Garuda.
Tentu saja dari sisi lain akan muncul kritik. Kemenangan ini dinilai belum sepenuhnya merupakan hasil pembinaan asli Indonesia. Belum seluruh pemain lokal bertalenta mendapat ruang yang memadai. Biaya yang dikeluarkan juga tidak sedikit karena harus mendatangkan pemain-pemain yang berkarier di Eropa.
Okelah.
Singkirkan dulu perdebatan itu. Mari kita nikmati kegembiraan ini.
Sebab, trofi FIFA ASEAN Cup telah membuat hati puluhan juta warga Indonesia berbunga-bunga. Mereka tidur dengan mimpi indah. Mereka bekerja Selasa pagi dengan penuh semangat, walaupun mungkin harus menahan kantuk. Khusus bagi mereka yang mengeluarkan uang untuk menonton langsung di Stadion Gelora Bung Karno, mengunggah foto berseragam merah Timnas dengan latar suasana stadion tentu menjadi kebanggaan yang tiada tara.
Inilah salah satu hasil positif olahraga.
Ada harga diri yang naik. Ada perasaan senang yang sulit dibandingkan dengan materi atau uang. Terutama ketika berbagai persoalan sehari-hari membuat pikiran buntu dan kepala terasa mau pecah.
Stadion Gelora Bung Karno dan kompleks olahraga Senayan, lengkap dengan berbagai fasilitas pendukungnya, yang dibangun untuk menyambut Asian Games IV pada 1962, sejatinya merupakan petunjuk sejarah paling nyata bagaimana Presiden Soekarno berusaha menjadikan olahraga sebagai bagian dari kebanggaan bangsa.
Indonesia ketika itu ingin menunjukkan jati dirinya sebagai negara yang mandiri dan tidak ingin terseret dalam pertarungan Blok Barat maupun Blok Timur. Olahraga menjadi salah satu panggung untuk menunjukkan kemampuan bangsa di hadapan dunia.
Mendatangkan pelatih dari Eropa dan memberikan pelatihan internasional membuahkan hasil. Indonesia mampu menduduki peringkat kedua Asian Games IV di bawah Jepang dengan perolehan 11 medali emas.
Mohamad Sarengat menjadi salah satu pahlawan olahraga ketika itu setelah meraih emas di nomor 100 meter dan 110 meter gawang. Emas juga datang dari balap sepeda, loncat indah, serta bulu tangkis melalui nama-nama besar seperti Tan Joe Hok, Minarni, Retno Kustijah, Ferry Sonneville dan kawan-kawan.
Indonesia tidak hanya menjadi negara yang disegani dalam percaturan politik internasional dengan Presiden Soekarno sebagai salah satu tokoh penting Gerakan Non-Blok. Indonesia juga berusaha menunjukkan prestasi melalui olahraga.
Bahkan Indonesia menyelenggarakan Games of the New Emerging Forces (Ganefo), setelah sebelumnya tidak berpartisipasi dalam Olimpiade Tokyo. Meski akhirnya hanya berlangsung dua kali karena berbagai persoalan, Ganefo menunjukkan ambisi Indonesia menjadikan olahraga sebagai bagian dari diplomasi dan kebanggaan nasional.
Di level yang berbeda, Indonesia yang bergabung dalam pesta olahraga multi-event Asia Tenggara pada 1977 (yang sebelumnya dikenal sebagai South East Asian Peninsular Games atau SEAP Games) juga langsung menunjukkan kekuatannya dengan menjadi juara umum.
Program Presiden Soeharto, “Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat”, kemudian melahirkan pola pembinaan olahraga yang lebih terstruktur.
Ada pemusatan latihan daerah di berbagai provinsi. Ada kejuaraan olahraga mulai dari tingkat sekolah, perguruan tinggi hingga kelompok usia junior. Ada pula Sekolah Olahraga Ragunan yang menjadi salah satu tempat pembinaan atlet muda.
Atlet-atlet muda tidak ragu datang ke Jakarta. Mereka berlatih pagi dan sore, sembari tetap bersekolah sebagai bekal melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Pada masa itu, pemerintah menjadikan olahraga sebagai salah satu bagian penting dalam membangun semangat dan karakter bangsa.
Memang ada yang mengatakan kebijakan tersebut juga dimanfaatkan Orde Baru agar masyarakat lebih sibuk dengan olahraga dan tidak terlalu masuk ke dunia politik. Tidak sepenuhnya keliru.
Namun, di sisi lain, masa itu juga melahirkan berbagai prestasi yang membuat bangsa Indonesia bangga. Indonesia berkali-kali menjadi juara Piala Thomas dan Piala Uber, menjadi kekuatan utama Asia Tenggara, hingga akhirnya merebut medali emas Olimpiade untuk pertama kalinya di Barcelona 1992 setelah sebelumnya mendapatkan medali perak di Seoul 1988.
Artinya, pembinaan yang terstruktur memang membutuhkan waktu, kesabaran, dan kesinambungan.
Keberhasilan Indonesia meraih lima medali emas pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 menunjukkan bahwa pembinaan olahraga kita masih memiliki potensi besar. Bahkan, perolehan tersebut melampaui target awal pemerintah sebanyak empat medali emas. Emas datang antara lain dari angkat besi, panahan, panjat tebing dan bulu tangkis.
Medali perak dan perunggu juga diraih dari sejumlah cabang, termasuk menembak, dayung, voli pantai, panahan, bulu tangkis dan balap sepeda.
Atletik dan renang memang belum berhasil membawa pulang medali emas, tetapi penampilan atlet-atlet Indonesia di Aichi-Nagoya memberikan harapan. Jika ditangani dengan tepat, peluang mereka untuk meraih prestasi lebih tinggi pada event berikutnya terbuka.
Menjadi yang terbaik membutuhkan waktu panjang. Tidak cukup hanya dengan latihan intensif. Atlet harus mendapatkan kesempatan tampil dalam berbagai kejuaraan internasional agar terbiasa menghadapi tekanan dan persaingan di level dunia.
Karena itu, evaluasi terhadap kontingen Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya harus menjadi dasar bagi Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk menyusun rekomendasi pembinaan berkelanjutan kepada induk-induk organisasi olahraga.
Harus dibuat peta jalan. Harus disiapkan anggaran. Dan pelatihan nasional perlu memiliki program multi-years, bukan sekadar persiapan menjelang event.
Kalau dulu ada cabang olahraga prioritas, sudah saatnya KONI sebagai koordinator pembinaan olahraga membuat garis batas yang tegas: mana cabang yang sangat penting, mana yang penting dan mana yang kurang prioritas.
Mana yang dibiayai penuh, mana yang mendapat subsidi, dan mana yang harus mengembangkan pembiayaan secara mandiri.
Kondisi keuangan negara yang belum memungkinkan memberikan anggaran maksimal kepada seluruh cabang olahraga membuat kita harus berani menentukan pilihan.
Di sinilah pula peran pers diperlukan.
Pers harus terus mengawal pembinaan olahraga agar berjalan di jalur yang benar. Bukan soal like atau dislike. Bukan soal siapa pembinanya, apakah orang penting, berpengaruh atau seorang pengusaha.
Yang harus menjadi ukuran adalah prestasi, proses pembinaan, transparansi dan kepentingan olahraga Indonesia.
Memang, pengaruh media massa saat ini tidak lagi sebesar dahulu karena informasi dari media sosial semakin masif. Namun kebenaran tetap harus diungkapkan sebagai bentuk kontrol. Jangan sampai olahraga berjalan seperti lagu: serong ke kanan, sering ke kiri, tergantung selera.
Sukses Tim Indonesia merebut trofi FIFA ASEAN Cup dan keberhasilan melampaui target perolehan medali emas di Asian Games Aichi-Nagoya menunjukkan satu hal: kita adalah bangsa yang mampu menjadi juara.
Kita bisa menang dan berhasil apabila seluruh pelaku olahraga bekerja sungguh-sungguh sampai titik darah penghabisan. Masyarakat memberikan dukungan dan kontribusi agar atlet serta pelatih termotivasi memberikan pencapaian terbaik.
Dan pemerintah sebagai pengayom memberikan dukungan anggaran sesuai kebutuhan, dengan ruang bagi keterlibatan pihak swasta.
Kesuksesan di bidang olahraga adalah bagian dari kesuksesan bangsa dan negara.
Mari bahu-membahu untuk kejayaan Indonesia.
Merdeka.
Ciputat, 6 Oktober 2026








































































