
PALANGKA RAYA : Selama ini limbah organik dipandang sebagai sisa buangan. Padahal, jika diolah dengan tepat, bahan tersebut dapat dimanfaatkan menjadi pupuk yang berguna bagi tanaman. Potensi inilah yang dikenalkan kepada 55 pekebun kelapa sawit di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, melalui pelatihan pengolahan limbah organik menjadi pupuk.
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari kegiatan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik bagi Pekebun Kelapa Sawit Angkatan I dan II yang digelar Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Kegiatan yang berlangsung di Kota Palangka Raya itu resmi ditutup di M Hotel Bahalap, Sabtu (3/10/2026). Selama pelatihan, peserta tidak hanya mendapatkan pembekalan teori, tetapi juga mempraktikkan langsung pengolahan berbagai bahan organik menjadi pupuk.
Perwakilan panitia penyelenggara, Tota Totor Naibaho, S.P., M.P., mengatakan pelatihan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan sekaligus kemandirian pekebun kelapa sawit swadaya dalam memenuhi kebutuhan pupuk.
Menurutnya, potensi bahan baku pupuk organik sebenarnya cukup tersedia di lingkungan sekitar pekebun, mulai dari limbah organik hingga kotoran ternak. Jika diolah dengan teknik yang tepat, bahan tersebut dapat menjadi sumber unsur hara bagi tanaman.
“Pemanfaatan limbah organik ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sintetis sekaligus membantu pekebun menekan biaya pemupukan,” ujarnya.
Materi pelatihan kemudian tidak berhenti pada teori. Para peserta diberi kesempatan mempraktikkan pembuatan berbagai jenis pupuk, termasuk pupuk organik padat, pupuk organik cair, serta mikroorganisme lokal (MOL).
Bagi peserta, metode tersebut memberikan pengalaman yang lebih aplikatif karena pengetahuan yang diperoleh dapat langsung disesuaikan dengan kondisi di daerah asal masing-masing.
Peserta Angkatan I, Solikhin, mengatakan pelatihan membuka pemahaman baru mengenai potensi limbah yang selama ini belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat.
“Di tempat kami sebenarnya banyak sekali potensi limbah yang belum dimanfaatkan karena kami belum mengetahui ilmunya. Setelah mengetahui teknik yang tepat melalui pelatihan ini, ilmu yang kami dapat akan diterapkan bersama masyarakat dan kelompok tani di daerah kami,” katanya.
Hal senada disampaikan peserta Angkatan II, Siti Zulaikha. Menurutnya, perpaduan antara materi teori dan praktik membuat peserta lebih mudah memahami tahapan pembuatan pupuk organik.
“Di sini kami tidak hanya menerima materi secara teori, tetapi juga langsung melakukan praktik pembuatan pupuk padat, pupuk cair, hingga MOL,” ujarnya.
Pelatihan juga diwarnai pemberian penghargaan kepada peserta terbaik dari masing-masing angkatan. Sunaryo terpilih sebagai peserta terbaik Angkatan I, sedangkan Heru Mustofa menjadi peserta terbaik Angkatan II.
Sementara itu, penutupan pelatihan dilakukan Widyaiswara BBPP Binuang, Susmawati, S.P., M.P., yang mewakili Kepala BBPP Binuang.
Susmawati mendorong para peserta tidak berhenti pada pelatihan, tetapi segera menerapkan pengetahuan yang diperoleh di kebun masing-masing. Peserta juga diminta membagikan keterampilan tersebut kepada anggota kelompok tani di daerah asal.
“Ilmu yang sudah didapat agar segera diterapkan secara mandiri di kebun masing-masing, kemudian ditularkan kepada anggota kelompok tani di wilayah asal,” pesannya.
Menurut Susmawati, pelaksanaan pelatihan tersebut merupakan bagian dari dukungan berkelanjutan terhadap peningkatan kapasitas sumber daya manusia pekebun kelapa sawit rakyat. BBPP Binuang sebelumnya juga dipercaya melaksanakan pelatihan budi daya kelapa sawit di Kabupaten Tanah Bumbu dan Barito Kuala, Kalimantan Selatan.
Pada 2026, cakupan pelatihan diperluas ke sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah, termasuk Kabupaten Barito Utara dan Kotawaringin Timur.
“Kami sangat bersyukur dipercaya menyelenggarakan pelatihan ini secara konsisten. Tahun ini, alhamdulillah, alokasi pelatihan pupuk organik juga dilaksanakan di Provinsi Kalimantan Tengah,” ungkapnya.
Susmawati berharap Kotawaringin Timur kembali mendapat alokasi pelatihan pada tahun berikutnya sehingga semakin banyak pekebun memperoleh keterampilan yang dapat diterapkan langsung di kebun.
Bagi pekebun sawit rakyat, kemampuan mengolah bahan organik menjadi pupuk bukan sekadar keterampilan tambahan. Pemanfaatan sumber daya yang tersedia di sekitar kebun berpotensi membantu mengurangi biaya pemupukan sekaligus mengoptimalkan pengelolaan limbah dan menjaga kualitas tanah.
Dari pelatihan tersebut, 55 pekebun diharapkan dapat membawa pengetahuan yang diperoleh ke kelompok tani masing-masing dan menjadi penggerak pemanfaatan pupuk organik di daerah asal. Langkah ini sekaligus mendukung upaya mendorong pekebun kelapa sawit rakyat menjadi “Petani Naik Kelas.”








































































