
PANGKALAN BUN : Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, berdampak serius terhadap kehidupan masyarakat Desa Teluk Pulai, Kecamatan Kumai. Sebanyak 495 warga dilaporkan mengalami keterisolasian selama hampir tiga bulan akibat kabut asap dan kondisi perairan yang menghambat perjalanan.
Kepala Desa Teluk Pulai, Herliyus Cristian, mengatakan selama ini masyarakat mengandalkan jalur air untuk bepergian menuju pusat Kecamatan Kumai. Dalam kondisi normal, perjalanan menggunakan speedboat hanya memerlukan waktu sekitar satu jam. Namun, sejak kebakaran terjadi dan kabut asap menyelimuti kawasan tersebut, perjalanan bisa memakan waktu hingga dua hari.
“Sejak kebakaran terjadi di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, kami kesulitan beraktivitas. Perjalanan menuju Kumai yang biasanya hanya satu jam sekarang bisa mencapai dua hari. Selain kabut asap, gelombang laut juga kurang bersahabat,” kata Herliyus, Selasa (20/10/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat mobilitas warga terganggu. Ia berharap pemerintah dan pengelola TNTP mempertimbangkan usulan pembukaan jalan penghubung antara Desa Teluk Pulai dan Desa Sekonyer yang berjarak sekitar lima kilometer.
Jalur darat tersebut dinilai dapat menjadi alternatif bagi masyarakat ketika perjalanan melalui perairan tidak memungkinkan. Dengan adanya akses penghubung, warga diharapkan tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa sepenuhnya bergantung pada transportasi air.
Di tengah keterbatasan akses, warga bersama petugas gabungan juga terus berupaya mencegah api meluas ke permukiman. Tim yang terdiri atas Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Teluk Pulai, kelompok KTPA PT ASMR dari BGA Group, serta personel Polsek Kumai melakukan pemadaman di kawasan Sungai Buluh Kecil.
Herliyus menyebutkan, sebanyak 60 anggota MPA Desa Teluk Pulai dikerahkan untuk membantu pemadaman. Mereka bekerja bersama lima personel kepolisian guna mengendalikan kebakaran yang lokasinya diperkirakan berjarak sekitar empat kilometer dari desa.
“Upaya pemadaman terus kami lakukan agar api tidak menjalar ke permukiman. Kebakaran sudah mendekati sungai, sedangkan jarak titik api ke desa kami sekitar empat kilometer,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kebakaran juga melanda kawasan Sungai Buluh Besar. Di lokasi tersebut, sejumlah kelompok relawan turut melakukan pemadaman untuk mengendalikan penyebaran api.
Berdasarkan informasi dari lapangan, titik kebakaran lainnya berada di kawasan Sungai Sekonyer. Jalur sungai ini memiliki peran penting sebagai akses transportasi air dari Pelabuhan Kumai menuju kawasan rehabilitasi dan konservasi orangutan di dalam TNTP.
Sungai Sekonyer juga dikenal sebagai bagian dari ekosistem rawa gambut yang memiliki karakteristik air berwarna kecokelatan hingga hitam pekat atau black water. Kawasan ini menjadi habitat beragam flora dan fauna khas Kalimantan, termasuk orangutan, bekantan, pohon ramin, kantong semar, nipah, dan burung raja udang.
Keunikan bentang alam dan kekayaan hayatinya membuat kawasan tersebut kerap dijuluki The Amazon of Asia. Karena itu, kebakaran di wilayah TNTP tidak hanya mengancam kelestarian ekosistem, tetapi juga berpotensi mengganggu jalur transportasi masyarakat dan kegiatan wisata alam.
Kondisi Desa Teluk Pulai menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak terbatas pada kerusakan hutan dan munculnya kabut asap. Bagi masyarakat yang bergantung pada jalur sungai, kebakaran turut menghambat mobilitas, memperpanjang waktu perjalanan, dan menyulitkan akses menuju pusat pelayanan serta kebutuhan sehari-hari.
Penanganan kebakaran dan penyediaan akses transportasi alternatif menjadi dua kebutuhan penting untuk melindungi warga sekaligus menjaga kelestarian kawasan konservasi Taman Nasional Tanjung Puting.










































































