
BARABAI – Bahasa Banjar mulai mendapatkan tempat di ranah digital melalui sebuah inovasi yang dikembangkan di Hulu Sungai Tengah (HST). Inovasi tersebut bernama Butah Bahari HST, singkatan dari Bubuhan Revitalisasi Bahasa Daerah Bahasa Banjar Lestari.
Kehadiran Butah Bahari tidak hanya ditujukan sebagai tempat penyimpanan berbagai dokumentasi program revitalisasi bahasa daerah. Platform ini juga diproyeksikan menjadi ruang kreatif bagi generasi muda untuk menuangkan karya dengan menggunakan Bahasa Banjar.
Kepala Dinas Pendidikan HST Muhammad Anhar menjelaskan, platform tersebut dibangun untuk mengumpulkan sekaligus menyimpan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan upaya pelestarian bahasa daerah.
Menurut Anhar, tim yang menangani program revitalisasi terus menjalankan berbagai kegiatan. Salah satu perkembangan terbarunya diwujudkan melalui Butah Bahari sebagai sarana digital untuk mengumpulkan, mendokumentasikan, dan mengarsipkan kegiatan pelestarian Bahasa Banjar.
Ke depan, para pelajar dapat menggunakan platform tersebut untuk mempublikasikan karya mereka. Berbagai bentuk tulisan, seperti cerpen, cerita, maupun karya lainnya dalam Bahasa Banjar dapat dimuat di dalamnya.
Langkah tersebut diharapkan membuat Bahasa Banjar tidak hanya digunakan dalam komunikasi sehari-hari, tetapi juga semakin dikenal melalui ruang digital yang dekat dengan kehidupan anak muda.
Butah Bahari HST resmi diperkenalkan dalam agenda soft launching Murakata Student Learning and Support Center (MSLSC) yang berlangsung di Pendopo Bupati HST, Rabu (07/10/2026).
Anhar menyebut pengembangan platform tersebut merupakan bagian dari langkah pemerintah daerah untuk mempertahankan keberadaan Bahasa Banjar sekaligus memastikan bahasa tersebut dapat terus diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Upaya tersebut juga sejalan dengan capaian HST yang sebelumnya berhasil memperoleh penghargaan tingkat Kalimantan Selatan dalam program revitalisasi bahasa daerah pada 2025.
Dengan adanya Butah Bahari, program pelestarian Bahasa Banjar diharapkan semakin luas dan berkembang. Pemerintah daerah bahkan menargetkan HST dapat kembali menjadi nominasi dalam penghargaan revitalisasi bahasa daerah pada 2027.
Sementara itu, Sekda HST Pajaruddin menilai pemanfaatan teknologi digital menjadi hal penting dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah di tengah pesatnya perkembangan zaman.
Ia berharap semangat Bahasa Banjar Lestari tidak hanya diwujudkan melalui pelestarian bahasa, tetapi juga melalui berbagai inovasi yang mampu mempertahankan identitas dan kekayaan budaya daerah.
Menurutnya, Butah Bahari sebaiknya tidak hanya berfungsi sebagai pusat penyimpanan informasi dan dokumentasi. Platform tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi ruang digital yang mempertemukan berbagai pengetahuan, karya, serta prestasi yang dihasilkan guru, peserta didik, maupun masyarakat.











































































