
KOTAWARINGIN BARAT : Hamparan pasir putih, semilir angin laut, dan suara burung yang bersahutan menyambut setiap pengunjung yang tiba di Tanjung Keluang. Di kawasan ini, liburan bukan sekadar menikmati panorama pantai, melainkan juga kesempatan untuk mengenal kekayaan alam dan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Terletak di Desa Kubu, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Tanjung Keluang menawarkan pengalaman wisata yang berbeda. Perjalanan menuju kawasan ini pun menjadi bagian dari petualangan, ketika pengunjung harus menyeberangi perairan menggunakan kelotok atau perahu nelayan setempat.
Dari Pangkalan Bun, perjalanan darat menuju kawasan Pantai Kubu memerlukan waktu sekitar 40 menit. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menyeberangi laut selama kurang lebih 15–20 menit menggunakan perahu tradisional. Bagi pengunjung yang menginginkan perjalanan lebih singkat, speedboat dapat menjadi alternatif dengan waktu tempuh sekitar 7–10 menit.
Sepanjang penyeberangan, perairan di sekitar Tanjung Keluang menyuguhkan pemandangan yang menarik. Ikan-ikan kecil sesekali terlihat melompat di permukaan air, sementara ikan julung-julung dengan moncongnya yang khas menambah daya tarik perjalanan. Jika beruntung, pengunjung juga dapat menjumpai lumba-lumba yang muncul di antara gelombang laut.
Setibanya di dermaga, suasana tenang langsung terasa. Hamparan pesisir dan vegetasi pantai menghadirkan pemandangan yang menyejukkan mata. Kawasan ini menjadi tempat yang tepat bagi wisatawan untuk berjalan menyusuri pantai, menikmati udara laut, atau mengabadikan momen bersama keluarga dan sahabat.
Tanjung Keluang memiliki luas sekitar 2.000 hektare dan termasuk kawasan Taman Wisata Alam yang dilindungi. Kekayaan bentang alamnya menjadikan kawasan ini tidak hanya bernilai sebagai destinasi rekreasi, tetapi juga sebagai ruang penting bagi pelestarian keanekaragaman hayati.
Daya tariknya semakin kuat dengan keberadaan kawasan konservasi dan edukasi. Di sini, pengunjung dapat mengenal upaya perlindungan penyu, termasuk penyu sisik dan penyu hijau yang merupakan satwa dilindungi.
Keberadaan fasilitas penangkaran menjadi sarana untuk memperkenalkan kehidupan penyu sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap kelangsungan hidup satwa tersebut.
Bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana alam lebih lama, kawasan pantai juga menawarkan pengalaman berkemah. Suasana pesisir yang relatif tenang memberikan kesempatan untuk menikmati waktu bersama orang-orang terdekat sembari merasakan kedekatan dengan alam.
Namun, keindahan Tanjung Keluang tidak hanya terletak pada garis pantainya. Kawasan hutan di sekitarnya menjadi habitat bagi beragam satwa liar, seperti beruang madu, orang utan, burung rangkong, rusa, dan biawak. Sejumlah jenis burung, termasuk elang bondol dan elang laut, juga menambah kekayaan fauna kawasan ini.
Keberadaan satwa-satwa tersebut menjadi pengingat bahwa Tanjung Keluang bukan semata-mata tempat wisata, melainkan ekosistem yang harus dijaga. Sebagian kawasan ditetapkan sebagai zona inti yang memiliki fungsi perlindungan sehingga tidak dapat dimasuki secara bebas oleh pengunjung.
Selain satwa liar, vegetasi pantai turut membentuk karakter lanskap Tanjung Keluang. Cemara laut, pandan laut, waru laut, dan ketapang tumbuh di kawasan pesisir, memberikan warna tersendiri pada bentang alam sekaligus mendukung fungsi ekologis lingkungan pantai.
Keistimewaan kawasan ini juga mendapat pengakuan melalui penghargaan juara pertama kategori Ekowisata dalam Anugerah Pesona Indonesia (API) Award 2021. Penghargaan tersebut menjadi salah satu catatan penting bagi potensi Tanjung Keluang sebagai destinasi yang menggabungkan pariwisata dan pelestarian alam.
Meski demikian, menjaga keindahan kawasan ini membutuhkan keterlibatan semua pihak. Wisatawan perlu membuang sampah pada tempatnya, tidak mengganggu satwa liar, mematuhi batas zona kunjungan, serta mengikuti arahan petugas selama berada di kawasan konservasi.
Pada akhirnya, perjalanan ke Tanjung Keluang menawarkan lebih dari sekadar pengalaman berlibur di pantai. Ada keindahan alam yang dapat dinikmati, pengetahuan tentang satwa yang dapat dipelajari, dan kesadaran lingkungan yang dapat dibawa pulang.
Di pesisir Kalimantan Tengah ini, setiap langkah menyusuri pasir dan setiap perjalanan melintasi laut menjadi pengingat bahwa alam bukan hanya untuk dikagumi, tetapi juga untuk dilindungi. Tanjung Keluang pun hadir sebagai pilihan wisata bagi mereka yang ingin beristirahat sejenak dari rutinitas sekaligus menemukan makna perjalanan yang lebih dekat dengan alam.







































































