
BANJARBARU : Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Sjamsudin Noor mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Kalimantan Tengah (Kalteng).
Operasi ini dilaksanakan tanpa batas waktu yang ditentukan, dengan target minimal 24 sorti penerbangan per hari. Langkah tersebut merupakan tindak lanjut instruksi Presiden Republik Indonesia untuk mengerahkan seluruh sumber daya dalam penanganan karhutla dan dampak kabut asap.
Komandan Lanud Sjamsudin Noor, Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita, menegaskan bahwa operasi akan terus berlangsung hingga kondisi karhutla dapat diatasi. Tidak ada pembatasan waktu maupun jumlah sorti penerbangan selama upaya penanggulangan masih diperlukan.
“Dari pemerintah, sampai saat ini kita akan melaksanakan OMC sampai dengan karhutla ini teratasi. Jadi belum ada batasan waktu, tidak ada batasan sorti, kita akan siapkan minimal 24 sorti per hari,” tegas Hilman. Rabu (28/10/2026).
Untuk mendukung operasi tersebut, Lanud Sjamsudin Noor menyiagakan 14 pesawat yang terdiri atas delapan pesawat untuk OMC, lima pesawat untuk misi pengeboman air (water bombing), serta satu helikopter untuk patroli wilayah.
Kekuatan udara itu diperkuat melalui sinergi lintas satuan TNI Angkatan Udara, dengan melibatkan pesawat CASA dari Skadron Udara 4, Hercules C-130 dari Skadron Udara 32, dan CN-295 dari Skadron Udara 2.
Upaya modifikasi cuaca dilakukan dengan menyemai awan potensial untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah terdampak karhutla. Operasi ini juga diharapkan membantu mengurangi dampak asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Sebar 3,6 Ton Garam ke Awan Potensial
Dalam pelaksanaan operasi pada Selasa, tim udara mendistribusikan sebanyak 3,6 ton garam atau natrium klorida (NaCl) ke sejumlah awan potensial. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung proses pembentukan hujan di wilayah sasaran.
Pilot pesawat CASA NC-212 Skadron Udara 4, Kapten Pnb Edwin Aldrin, menjelaskan bahwa tim menerapkan metode kombinasi untuk mengatasi lapisan asap pekat yang dapat menghambat proses pembentukan awan.
Menurut Edwin, pesawat terbang pada ketinggian 10.000 hingga 12.000 kaki untuk melakukan penyemaian dry ice atau es kering. Metode ini diharapkan membantu mendinginkan udara dan mendukung terbukanya lapisan inversi yang menghambat perkembangan awan.
Setelah sinar matahari menembus lapisan asap dan proses penguapan berlangsung, penyemaian dilanjutkan menggunakan NaCl pada awan potensial.
“Kita terbang ke ketinggian blocking dari 10.000 kaki sampai dengan 12.000 kaki. Kita melaksanakan penaburan dry ice dengan harapan suhu udara dapat turun mendinginkan sehingga membuka lapisan asap atau inversi, kemudian setelah cahaya matahari masuk terjadi penguapan dan muncul awan, baru kita tabur lagi menggunakan NaCl,” jelasnya.
Lanud Sjamsudin Noor berharap penguatan operasi udara dan koordinasi lintas satuan dapat membantu mempercepat penanganan karhutla di Kalsel dan Kalteng. Pelaksanaan OMC, misi water bombing, serta patroli udara menjadi bagian dari upaya terpadu untuk menekan kebakaran dan mengurangi dampak kabut asap terhadap masyarakat.














































































