
MARTAPURA : Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, masih tinggi di tengah dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banjar mencatat 15.138 kasus ISPA kategori sedang hingga berat hingga Selasa (27/10/2026).
Untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat paparan asap, Dinkes Kabupaten Banjar menambah pengadaan masker dan memperluas distribusinya kepada masyarakat, terutama di wilayah terdampak kabut asap.
Kepala Dinkes Kabupaten Banjar, Noripansyah, mengatakan kasus ISPA masih menjadi perhatian meskipun hujan telah turun di sejumlah wilayah. Menurutnya, dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat masih dirasakan.
“Kasus ISPA di Kabupaten Banjar masih tinggi meski sudah turun hujan di sejumlah wilayah. Dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat masih sangat dirasakan,” kata Noripansyah saat dikonfirmasi, Rabu (28/10/2026).
Ia menjelaskan, pemantauan kesehatan masyarakat perlu terus dilakukan selama kualitas udara belum sepenuhnya membaik. Karena itu, penambahan pasokan masker menjadi salah satu langkah untuk membantu melindungi masyarakat dari paparan asap.
“Kita sudah menambah pengadaan masker dan membeli dua tambahan pasokan baru,” ujarnya.
Distribusi masker dilakukan melalui pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dan puskesmas pembantu (pustu). Dinkes juga menggandeng lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi kemasyarakatan, Duta Wisata, serta Duta Kesehatan untuk memperluas penyaluran masker, terutama ke wilayah yang belum terjangkau pelayanan kesehatan secara optimal.
Noripansyah mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap pekat atau kualitas udara memburuk. Warga juga diminta menggunakan masker dengan benar apabila harus beraktivitas di luar rumah.
“Yang paling penting adalah mengurangi paparan asap. Jika udara di luar terlihat berkabut atau kualitasnya tidak sehat, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker dengan baik apabila harus keluar rumah,” imbaunya.
Kasus Diare Juga Meningkat
Selain ISPA, Dinkes Kabupaten Banjar turut mewaspadai peningkatan kasus diare di tengah keterbatasan akses air bersih akibat kekeringan. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena ketersediaan air bersih berkaitan erat dengan kebersihan dan sanitasi masyarakat.
Noripansyah mengatakan masih terdapat sejumlah wilayah yang belum terjangkau distribusi air bersih secara optimal. Keterbatasan tersebut berpotensi meningkatkan risiko diare dan gangguan pencernaan lainnya.
“Masih ada beberapa daerah yang belum terjangkau air bersih. Ini menjadi salah satu persoalan yang harus diperhatikan karena kekurangan air bersih dapat meningkatkan risiko diare dan penyakit pencernaan lainnya,” jelasnya.
Data Dinkes Kabupaten Banjar menunjukkan kasus diare meningkat selama tiga bulan terakhir. Pada Juli tercatat 608 kasus, kemudian naik menjadi 630 kasus pada Agustus dan kembali meningkat menjadi 748 kasus pada September.
Meski demikian, peningkatan kasus diare tersebut tidak serta-merta dapat dikaitkan sepenuhnya dengan kekeringan. Diperlukan kajian lebih lanjut untuk memastikan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan kasus.
Dinkes Kabupaten Banjar terus mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan, menggunakan air bersih yang aman, serta mengurangi paparan asap selama kualitas udara belum membaik. Upaya tersebut diharapkan dapat menekan risiko gangguan kesehatan di tengah kondisi karhutla dan kekeringan yang masih berdampak pada sejumlah wilayah.














































































