
PALANGKA RAYA : Aksi protes terhadap pemadaman listrik bergilir di Kalimantan Tengah kembali memanas. Aliansi Gerakan Palangka Raya Gelap membawa sekitar 4.000 bangkai ayam ke halaman Kantor Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) PLN Palangka Raya, Sabtu (31/10/2026), sebagai bentuk protes atas kerugian yang dialami masyarakat akibat gangguan pasokan listrik.
Dalam aksi unjuk rasa yang memasuki kali ketujuh tersebut, massa mendesak PT PLN (Persero) menghentikan pemadaman listrik bergilir. Mereka juga menuntut pencopotan General Manager PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Kalselteng), beserta jajaran manajer yang dinilai bertanggung jawab atas persoalan kelistrikan di Kalimantan Tengah.
Ribuan bangkai ayam yang dibawa dan dibuang di halaman kantor PLN menjadi simbol protes atas dampak gangguan listrik terhadap sektor usaha peternakan. Para peternak mengaku mengalami kerugian besar akibat kematian ternak yang mereka kaitkan dengan terganggunya pasokan listrik.
Koordinator lapangan aksi menegaskan, salah satu tuntutan utama massa adalah pergantian pimpinan PLN di wilayah Kalselteng dan jajaran manajemen di Kalimantan Tengah.
“Tuntutan kami agar segera dicopotnya General Manager PT PLN (Persero) UIW Kalselteng dan jajaran manajer di Kalimantan Tengah,” ujarnya di lokasi aksi.
Besarnya dampak gangguan listrik tersebut juga disampaikan Satrio, salah seorang peternak ayam yang mengaku mengalami kerugian hingga sekitar Rp200 juta. Ia menyebut sebanyak 7.000 ekor ayam miliknya mati saat berusia 16 hari setelah gangguan tegangan listrik diduga merusak genset cadangan di peternakannya.
“Kalau kerugian materiil ini sekitar Rp200 juta karena 7.000 ekor ayam saya mati,” ungkap Satrio.
Menurutnya, kejadian serupa bukan kali pertama dialami. Pada peristiwa sebelumnya, ia juga kehilangan sekitar 5.000 ekor ayam akibat persoalan yang disebutnya berkaitan dengan gangguan listrik.
Selain meminta pencopotan pimpinan PLN, massa mendesak perusahaan memberikan kompensasi atas kerusakan peralatan elektronik dan kematian ternak yang diduga berkaitan dengan gangguan pasokan listrik.
Mereka juga meminta PLN membuka informasi secara transparan mengenai penyebab krisis listrik di Kalimantan Tengah, termasuk menindaklanjuti dugaan penyimpangan internal perusahaan.
Namun, hingga aksi berakhir, tidak ada perwakilan manajemen PLN yang menemui massa untuk memberikan penjelasan ataupun menanggapi tuntutan tersebut.
Aliansi Gerakan Palangka Raya Gelap pun memberikan ultimatum kepada PLN. Mereka mengancam akan mendatangi rumah jabatan pimpinan PLN apabila pemadaman listrik belum berakhir hingga Senin mendatang.
Massa juga menyayangkan minimnya respons dari kalangan legislatif terhadap persoalan kelistrikan yang dinilai telah mengganggu aktivitas masyarakat dan menyebabkan kerugian ekonomi.
Mereka mendesak PLN segera mengambil langkah konkret untuk memulihkan pasokan listrik serta memberikan kepastian pelayanan kepada masyarakat Kalimantan Tengah.














































































