
PALANGKA RAYA : Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) dalam beberapa hari terakhir belum sepenuhnya menghilangkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) masih mencatat 101 titik panas (hotspot) di wilayah tersebut berdasarkan pemantauan hingga 28 Oktober 2026.
Meski demikian, kondisi cuaca menunjukkan perkembangan positif. BMKG memprakirakan curah hujan di sebagian besar wilayah Kalteng meningkat pada awal November 2026. Kondisi ini diharapkan dapat membantu membasahi lahan dan menekan potensi kebakaran.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut, Ihsan Sidiq, menjelaskan, hujan yang terjadi dipengaruhi kombinasi dinamika atmosfer dan intervensi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Sejumlah faktor atmosfer yang mendukung pembentukan awan hujan antara lain aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO) fase 2, daerah konvergensi, serta tingkat kelembapan udara yang relatif tinggi.
“Hujan yang terjadi merupakan hasil sinergi antara faktor dinamika atmosfer dan intervensi Operasi Modifikasi Cuaca,” kata Ihsan, dalam keterangan persnya Sabtu (31/10/2026).
Menurutnya, OMC membantu mempercepat proses mikrofisika awan melalui teknik penyemaian. Upaya tersebut dapat berjalan lebih optimal ketika kondisi atmosfer memiliki pasokan uap air yang memadai untuk mendukung pembentukan hujan.
Memasuki dasarian pertama November 2026 atau periode 1–10 November, BMKG memprakirakan curah hujan meningkat di sebagian besar wilayah Kalteng. Intensitasnya diperkirakan berkisar 50–150 milimeter per dasarian atau masuk kategori menengah.
“Harapannya, prediksi kenaikan curah hujan tersebut dapat membasahi lahan dan menekan risiko kebakaran kembali,” ujar Ihsan.
Meski peluang hujan meningkat, BMKG mengingatkan bahwa distribusi hujan tidak selalu merata di seluruh wilayah. Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi karhutla, terutama di daerah yang belum mendapatkan hujan secara optimal.
Dampak membaiknya kondisi cuaca juga mulai terlihat pada aktivitas penerbangan. Jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, pada Sabtu (31/10/2026) tercatat mencapai 6.000 meter, setelah sebelumnya sempat mengalami gangguan akibat kondisi cuaca.
General Manager Bandara Tjilik Riwut, I Made Darmawan, mengatakan operasional penerbangan tetap bergantung pada keputusan masing-masing maskapai. Evaluasi kondisi cuaca dan operasional terus dilakukan dengan mengutamakan keselamatan penumpang.














































































